Selasa, 16 Maret 2010

Kelompok Anak Autis Yang Pasif

Perilaku kelompok anak autis yang pasif agak berbeda dengan kelompok anak yang menyendiri seperti :

- Dapat mempertahankan kontak fisik.

- Mampu bermain dengan teman sebayanya.

- Perbendaharaan katanya lebih banyak meskipun agak terlambat.

- Dapat merangkai kata dengan lebih cepat namun terkadang mengeluarkan kata – kata yang tidak dimengerti.

- Kelompok pasif ini masih bisa diajari dan dilatih.

- Larut dengan perubahan lingkunganya.

- Gangguan kelompok ini lebih ringan daripada dengan yang menyendiri.

Daftar Pustaka :

Yatim, Faisal. 2002. Autisme Suatu Gangguan Jiwa Pada Anak – Anak. Jakarta : Obor.

Menyendiri Pada Anak Autis

Anak autis dalam interaksi social biasanya menyendiri seperti :
- Menghindari kontak fisik dengan lingkungannya, meskipun pada awalnya biasa saja namun hanya terjadi secara singkat. Tidak mampu menciptakan pergaulan yang akrab dengan teman sebayanya.
- Kurang bisa menggunakan kata – kata meskipun usianya semakin bertambah.
- Menghabiskan waktunya sendiri.
- Melakukan sesuatau secara berulang –ulang.
- Tergantung pada kegiatan sehari hari secara rutin.
- Mengeluarkan suara - suara yang aneh.
- Gerakan tangan.
- Mudah marah.
- Merusak mainan milik sendiri.
- Menyerang teman sepermainanya.


Daftar Pustaka :

Yatim, Faisal. 2002. Autisme Suatu Gangguan Jiwa Pada Anak – Anak. Jakarta : Obor.

Pemeriksaan Pada Anak Autis

Pemeriksaan CT scanning dan pneumo enchepalogram :

● Ventrikel pada otak tidak normal, terutama pada bagian temporal.

● Pelebaran ventrikel lateral otak.

Pemeriksaan Hispatologi :

● Sel –sel yang terbentuk di daerah hipocampus tidak normal dan amygdala di kedua sisi otak.

Pemeriksaan EEG :

● Kelainan tidak khas, tampak discharge temporal.

Laborarotium :

● Banyaknya pembuangan zat phenil keton melalui air seni (phenil ketonuria).

● Kurang mampu berkhayal (imaginasi).

Daftar Pustaka :

Yatim, Faisal. 2002. Autisme Suatu Gangguan Jiwa Pada Anak – Anak. Jakarta : Obor.

Penyebab Terjadinya Autis

Penyebab terjadinya autis belum diketahui secara pasti namun kemungkinan adanya kelainan saraf system saraf (neurology). Di era 50an diketahui penyebabnya dikarenakan pengaruh perlakuan orang tua dimasa anak –anak. Di era tahun 40an menurut Dr. Leo Kanner bahwa orang tua dari anak autis tidak memiliki kehangatan dalam membesarkan anaknya. Pada teori ini orang tua malah mengalami rasa penyesalan dan melakukan psycho terapi karena merasa dihina oleh teori tersebut. Belum ada data yang membuktikan bahwa penyebab autis karena perilaku orang tua.
Akhir – akhir ini para ahli mengakui bahw a penyebab autisme terjadi karena kelainan luhur di daerah otak. Kelainan fungsi ini terjadi karena trauma 0trauma yang dilami anak seperti :
- Bayi dalam kandungan keracunan kehamilan seperi (toxemia gravidarum), infeksi virus rubella, virus cytomegallo dan sebagainya.
- Kekurangan oksigen (anoksia) pada saat proses setelah kelahiran.
- Pembentukan otak yang kecil misalnya vermis otak kecil yang lebih kecil (mikrosepali), pengerutan jaringan otak (tuber sclerosis)
- Kelainan metabolisme seperti Penyakit Addison (infeksi tuberkulosa dan bertambahnya pigmen tubuh dan penurunan mental).
- Kelainan kromosom misalnya syndrome chromosoma X, sindroma chromosom XYY.

Daftar Pustaka :
Yatim, Faisal. 2002. Autisme Suatu Gangguan Jiwa Pada Anak – Anak. Jakarta : Obor.

Senin, 15 Maret 2010

Ciri Utama Anak Autis

Ciri – ciri utama autis, antara lain :
- Tidak peduli dengan lingkungan sosial
- Tidak bisa bereaksi normal dengan pergaulan sosialnya
- Perkembangan bahasa dan cara bicaranya tidak normal ( penyakit kelainan mental pada anak = autistic children)
- Reaksi atau pengamatan terhadap lingkungan terbatas dan berulang –ulang dan teratur.

Gejala ini bervariasi beratnya pada setiap kasus tergantung pada umur,
intelegensi, pengaruh pengobatan dan sebagainya. Anak autisme biasanya berbicara cepat namun tak memiliki arti.dan kadang diselingi suara yang tidak jelas seperti gemeretak gigi.
Kebanyakan intelegensi anak autis rendah. 20 % anak autis masih mempunyai IQ > 70. Kemampuan khusus seperti berhitung, membaca, menggambar dan menghafalnya kurang. Anak autis biasa terjadi pada anak laki – laki, 3-4 kali lebih banyak dibandingkan anak perempuan.

Yatim, Faisal. 2002. Autisme Suatu Gangguan Jiwa Pada Anak – Anak. Jakarta : Obor.

Pengertian Autisme

Autisme berasal dari bahasa Yunani yaitu ‘autos’ yang artinya sendiri. Istilah ini menggambarkan anak pikiran dan perilakunya terpusat pada diri sendiri. Jadi autis adalah gangguan perkembangan pada anak yang mencakup bidang komunikasi, interaksi dan perilaku. Pada anak autis terjadi gangguan perkembangan dan fungsi susunan saraf pusat yang menyebabkan gangguan fungsi otak, terutama pada fungsi pikiran, pemahaman dan komunikasi dengan orang lain.

Menurut badan kesehatan dunia WHO perbandingan anak autis dengan anak normal yaitu 1:100 termasuk data di Indonesia. Anak autis tidak banyak memiliki masalah medis namun mengalamai penyaki gigi dan mulut yang lebih berat karena koordinasinya kurang normal. Biasanya dia melakukan hal yang rutin dan teratur.



Daftar Pustaka :

Maulani, Chaerita. 2005. Kiat Merawat Gigi Anak. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Kamis, 18 Februari 2010

Nocturnal Enuresis ( Bedwetting)

Ngompol merupakan masa;ah pada anak yang sering ditemukan. Tidak jarang pula ditemukan pada anak yang sudah cukup besar (remaja). Hal ini sering ditemukan pada anak laki – laki.Anak umumnya mulai dilatih buang air kecil pada umur 3-4 tahun. Sehingga pada umur 5 tahun anak sudah dapat pergi ke toilet sendiri. Namun sekitar 30% anak berusia 4 tahun dan 10 % anak usia 6 tahun takut untuk pergi ke kamar mandi sendirir terutama pada malam hari.

Cara orang tua menghadapi anaknya yang ngompol :
- Jangan menghukum dan memarahi anak yang mengompol.
- Anjurkan pada anak agar tidak banyak minum pada 2 jam sebelum tidur.
- Selalu mengingatkan anak agar buang air kecil sebelum tidur.
- Berikan motivasi kepada anak agar dia tidak malu dengan perasaannya.
- Pasang alas tidur dari plastik agar kasur tidak basah.
- Anjurkan pada anak untuk mengganti sendiri pakaian dan alas tidur selesai dia mengompol.
- Sampaikan pada anak bahwa cara ini tidak bias menjamin dia bebas dari mengompol tetapi diharapkan bias mengurangi.

Anak yang mengompol perlu dibawa ke dokter bila :
- Anak masih mengompol pada usia > 6 tahun.
- Air kencing anak berbau tidak biasa dan mengelihkan nyeri selesai mengompol.
- Anak lebih sering kencing dari biasanya.
- Ngompol disertai buang air besar di celana.
- Anak masih sering mengompol pada siang hari.

Faktor Anak Mengompol
Mungkin karena anak sakit dan meminum obat atau bahan tertentu yang dapat mengganggu gangguan kandungan kemihnya. Mungkin anak tidak terbangun karena malas. Anak juga belum dapat menganggap bahwa kebersihan merupahan kebutuhan untu dirinya.

Pencegahan Anak Mengompol
Orang tua sebaiknya mengajarkan kepada anak agar menyukai kebersihan dan mengingatkannya selalu untuk ke kamar mandi. Secara wajar, anak berhenti mengompol pada usia 1 tahun. Setelah itu ajarkan pada anak agar bias membersihkan diri setelah buang aor kecil. Latihan ke kamarmandi sebaiknya dilakukan sebelum anak bias berjalan. Diharapkan dari latihan ini anak dapat mengontrol kandungan kemihnya sehingga terkontrol agar tidak mengompol.

Daftar Pustaka :
Yatim Faisal. 30 Gangguan Kesehatan Pada Anak Usia Sekolah. Pustaka Populer Obor.