Selasa, 16 Maret 2010
Diagnosa Banding Anak Autis
a. Semua gangguan pervasif lain.
b. Mengalami gangguan sosio-emosional sekunder.
c. Gangguan attachment reaktif.
d. Keterlambatan mental. 70% anak autis memiliki ketertinggalan mental (Mental Retardation) dan sebagian lagi memiliki intelektual seperti anak normal.
e. Penyakit gangguan jiwa awal Schizhoprenia.
f. Pada Schizhoprenia berat dapat timbul autisme.
g. Gejala autis dan keterbelakangan mental anak autis saling tumpang tindih.
h. Sindroma Rett
Daftar Pustaka :
Yatim, Faisal. 2002. Autisme Suatu Gangguan Jiwa Pada Anak – Anak. Jakarta : Obor.
Diagnosa Anak Autis
Diagnosa Anak Autis
1. Berdasarkan pergaulan dan kurang bisa memperlihatkan seseorang dapat menarik perhatian anak autis.
2. Kualitas dalam berkomunikasi kurang, paling tidak terlihat pada salah satu gejala sebagai berikut :
- Kurang mampunya berbahasa dan diimbangi denga bahasa isyarat.
- Kurang mampu berbicara dengan teman sebayanya.
- Mengulang kata dan kalimat tertentu.
- Tidak dapat mempercayai teman.
3. Perilaku dan perhatian berulang – ulang. Misalnya :
- Pikiran yang berulang – ulang dan perhatian terbatas.
- Gerakan rutin yang dipaksakan.
- Gerakan otot berulang –ulang.
- Terpaku pada setiap bahan benda permainan seperti meraba –raba halusnya permukaan dan lain –lain.
4. Gambaran Klinis.
Sosial emosional yang tidak akrab dengan orang disekitarnya, gangguan mental dan gangguan emosi perilaku.
Daftar Pustaka :
Yatim, Faisal. 2002. Autisme Suatu Gangguan Jiwa Pada Anak – Anak.
Anak Autis Dengan Kelompok Yang Aktif
- Bicara lebih cepat.
- Perbendaharaan katanya banyak.
- Dapat merangkai kata dengan baik namun terkadang masih mengeluarkan kata – kata aneh yang tidak dimengerti dan tidak jelas.
- Masih ikut berbagi rasa denagn temannya.
- Terpaku pada satu jenis barang tertentu misalnya kendaraan dan sebagainya.
- Sering mengajukan pertanyaan yang menarik
- Jika pembicaraanya dipotong dan kita tidak bisa menjawab maka dia akan marah.
- Diagnosa pada kelompok ini sulit membedakannya.
Daftar Pustaka :
Yatim, Faisal. 2002. Autisme Suatu Gangguan Jiwa Pada Anak – Anak. Jakarta : Obor.
Kelompok Anak Autis Yang Pasif
Perilaku kelompok anak autis yang pasif agak berbeda dengan kelompok anak yang menyendiri seperti :
- Dapat mempertahankan kontak fisik.
- Mampu bermain dengan teman sebayanya.
- Perbendaharaan katanya lebih banyak meskipun agak terlambat.
- Dapat merangkai kata dengan lebih cepat namun terkadang mengeluarkan kata – kata yang tidak dimengerti.
- Kelompok pasif ini masih bisa diajari dan dilatih.
- Larut dengan perubahan lingkunganya.
- Gangguan kelompok ini lebih ringan daripada dengan yang menyendiri.
Daftar Pustaka :
Yatim, Faisal. 2002. Autisme Suatu Gangguan Jiwa Pada Anak – Anak.
Menyendiri Pada Anak Autis
- Menghindari kontak fisik dengan lingkungannya, meskipun pada awalnya biasa saja namun hanya terjadi secara singkat. Tidak mampu menciptakan pergaulan yang akrab dengan teman sebayanya.
- Kurang bisa menggunakan kata – kata meskipun usianya semakin bertambah.
- Menghabiskan waktunya sendiri.
- Melakukan sesuatau secara berulang –ulang.
- Tergantung pada kegiatan sehari hari secara rutin.
- Mengeluarkan suara - suara yang aneh.
- Gerakan tangan.
- Mudah marah.
- Merusak mainan milik sendiri.
- Menyerang teman sepermainanya.
Daftar Pustaka :
Yatim, Faisal. 2002. Autisme Suatu Gangguan Jiwa Pada Anak – Anak. Jakarta : Obor.
Pemeriksaan Pada Anak Autis
● Ventrikel pada otak tidak normal, terutama pada bagian temporal.
● Pelebaran ventrikel lateral otak.
Pemeriksaan Hispatologi :
● Sel –sel yang terbentuk di daerah hipocampus tidak normal dan amygdala di kedua sisi otak.
Pemeriksaan EEG :
● Kelainan tidak khas, tampak discharge temporal.
Laborarotium :
● Banyaknya pembuangan zat phenil keton melalui air seni (phenil ketonuria).
● Kurang mampu berkhayal (imaginasi).
Daftar Pustaka :
Yatim, Faisal. 2002. Autisme Suatu Gangguan Jiwa Pada Anak – Anak.
Penyebab Terjadinya Autis
Akhir – akhir ini para ahli mengakui bahw a penyebab autisme terjadi karena kelainan luhur di daerah otak. Kelainan fungsi ini terjadi karena trauma 0trauma yang dilami anak seperti :
- Bayi dalam kandungan keracunan kehamilan seperi (toxemia gravidarum), infeksi virus rubella, virus cytomegallo dan sebagainya.
- Kekurangan oksigen (anoksia) pada saat proses setelah kelahiran.
- Pembentukan otak yang kecil misalnya vermis otak kecil yang lebih kecil (mikrosepali), pengerutan jaringan otak (tuber sclerosis)
- Kelainan metabolisme seperti Penyakit Addison (infeksi tuberkulosa dan bertambahnya pigmen tubuh dan penurunan mental).
- Kelainan kromosom misalnya syndrome chromosoma X, sindroma chromosom XYY.
Daftar Pustaka :
Yatim, Faisal. 2002. Autisme Suatu Gangguan Jiwa Pada Anak – Anak. Jakarta : Obor.
Senin, 15 Maret 2010
Ciri Utama Anak Autis
- Tidak peduli dengan lingkungan sosial
- Tidak bisa bereaksi normal dengan pergaulan sosialnya
- Perkembangan bahasa dan cara bicaranya tidak normal ( penyakit kelainan mental pada anak = autistic children)
- Reaksi atau pengamatan terhadap lingkungan terbatas dan berulang –ulang dan teratur.
Gejala ini bervariasi beratnya pada setiap kasus tergantung pada umur,
intelegensi, pengaruh pengobatan dan sebagainya. Anak autisme biasanya berbicara cepat namun tak memiliki arti.dan kadang diselingi suara yang tidak jelas seperti gemeretak gigi.
Kebanyakan intelegensi anak autis rendah. 20 % anak autis masih mempunyai IQ > 70. Kemampuan khusus seperti berhitung, membaca, menggambar dan menghafalnya kurang. Anak autis biasa terjadi pada anak laki – laki, 3-4 kali lebih banyak dibandingkan anak perempuan.
Yatim, Faisal. 2002. Autisme Suatu Gangguan Jiwa Pada Anak – Anak. Jakarta : Obor.
Pengertian Autisme
Autisme berasal dari bahasa Yunani yaitu ‘autos’ yang artinya sendiri. Istilah ini menggambarkan anak pikiran dan perilakunya terpusat pada diri sendiri. Jadi autis adalah gangguan perkembangan pada anak yang mencakup bidang komunikasi, interaksi dan perilaku. Pada anak autis terjadi gangguan perkembangan dan fungsi susunan saraf pusat yang menyebabkan gangguan fungsi otak, terutama pada fungsi pikiran, pemahaman dan komunikasi dengan orang lain.
Menurut badan kesehatan dunia WHO perbandingan anak autis dengan anak normal yaitu 1:100 termasuk data di Indonesia. Anak autis tidak banyak memiliki masalah medis namun mengalamai penyaki gigi dan mulut yang lebih berat karena koordinasinya kurang normal. Biasanya dia melakukan hal yang rutin dan teratur.
Maulani, Chaerita. 2005. Kiat Merawat Gigi Anak. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.