Senin, 31 Mei 2010

Membantu Keluarga Memahami Enkopresis

Perilaku yang terjadi secara umum kepada keluarga dengan anak yang mengalami Enkopresis tidak dapat disalahkan begitu saja. Dengan demikian mengurangi perasaan bersalah anak dan orang tua. Karena orang tua dan anak dengan segan memberin informasi dengan menyampaikannya secara sukarela. Pertanyaan langsung akan berhasil dijawab oleh orang tua maupun anak dibandingkan dengan menceritakannya.
Orang tua biasanya lebih lega setelah mengetahui bahwa orang tua lain berbagi dengan masalah ini dan terkejut karena mengetahui bahwa perubahan fungsional yang terjadisetelah munculnya kondisi ini akan membuat kontrol pengeluaran feses menjadi memungkinkan. Banyak orang tua yang mengeluh anaknya tidak dapat meluangkan waktu bermainnya untuk defekasi.
Anak – anak mungkin tidak menyadari adanya sensasi awal dan tidak mampu mengontrol desakan defekasi segera setelah desakan itu muncul. Mereka mungkin terbiasa dengan defekasi involunter sehingga mereka tidak mampu mencium atau merasakannya serta sering menyangkal ketika hal itu sudah terjadi dan tidak dapat mengontrolnya.


Daftar Pustaka :
Wong. 2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC.

ENKOPRESIS

Enkopresis adalah pengeluaran feses dengan konsistensi normal atau mendekati normal yang volunter atau involunter secara berulang di tempat tidak sesuai. Enkopresis tidak disebabkan oleh efek fisiologik namun berhubungan dengan masalah emosional.

Enkopresis primer diidentifikasikan pada umur 4 tahun ketika anak belum mencapai kontinensial fekal. Faktor penyebabnya mungkin adalah toilet training yang tidk teratur dn stress psikososial, sperti masuk sekolah dan kelahiran adik. Gangguan Enkopresis ini lebih sering terjadi pada anak laki – laki daripada anak perempuan.

Penampilan dan kehadiran di sekolah terpengaruh karena bau anak yang menusuk menjadi target cemoohan dan ejekan teman sekeklasnya. Hal ini menyebabkan anak menarik diri dari lingkungannya dan memiliki manifesti perilaku lainnya.

Daftar Pustaka :

Wong. 2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC.

Gangguan Disintegratif

Gangguan disintegratif biasanya terjadi pada anak laki – laki dan berlangsung sepanjang hidupnya.Usia khusus yang biasa terjadi pada usia 3 sampai 4 tahun. Gangguan ini pada masa kanak-kanak ditandai dengan regresi yang nyata pada beberapa area fungsi setelah periode pertumbuhan dan perkembangan yang mulanya tampak normal minimal dua tahun (DSM-IV-TR, 2000). Anak mengalami defisit sosial komunikasi serta pola perilaku yang sama dengan yang terlihat pada gangguan autistik.

Gangguan ini sangat jarang terjadi. Pada disintegratif hal yang paling mencolok bahwa anak itu sudah berkembang dengan baik sebelum terjadi kemunduran yang hebat. Anak tersebut sudah bisa berbicara dengan lancar tetapi mengalami kemunduran yang sangat mengejutkan. Berbicara tiba-tiba terhenti dan mulai menarik diri dari keterampilan. Perilaku menjadi sangat acuh dan acuh dan terjadi perilaku yang berulang-ulang dan stereotipik.

Ciri – ciri utama dari gangguan ini, yaitu :

  1. Pada anak usia 2 tahun anak mengalami perkembangan dalam komunikasi, hubungan sosial, permainan dan tingkah laku adaptif secara normal, namun setelah itu terjadi regresi dan hilangnya keterampilan - keterampilan hingga usia 10 tahun.
  2. Kurang terkontrolnya buang air besar dan buang air kecil serta kemerosotan motorik.
  3. Berkurang dan menghilangnya minat dan perhatian akan lingkungan
  4. Munculnya mekanisme motorik yang stereotipis dan berulang - ulang
  5. Berkurangnya interaksi sosial dan komunikasi, serta terjadi retardasi mental
  6. Gangguan ini mirip dengan gangguan dementia

Daftar Pustaka :

Videbeck, Sheila.L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Alih bahasa: Renata Komalasari. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.

Semiun, Yustinus. 2006. Kesehatan Mental 2. Yogyakarta: Kanisius.

RETT

Gangguan Rett adalah gangguan perkembangan pervasive yang ditandai dengan perkembangan beberapa deficit setelah periode fungsi normal dari lahir hingga usia 5 bulan. Setelah 5 bulan anak akan kehilangan keterampilan motorik dan menunujukkan gerakan stereotip. Terdapat kehilangan minat dalam lingkungan social dan gangguan berbahasa ekspresif dan reseptif yang berat menjadi lebih jelas ketika anak mulai tumbuh besar. Biasanya gangguan ini terjadi pada anak perempuan dan akan berlangsung selama masa hidupnya.
Ciri – ciri utama gangguan Rett, yaitu :
1. Gangguan motor berlangsung secara normal hingga usia 5 bulan, setelah 5 bulan muncul gangguan misalnya kehilangan sebagian atau seluruh keterampilan tangan dan bahasa yang telah diperoleh sebelumnya.
2. Ukuran kepala normal pada waktu kelahiran tetapi setelah itu pertumbuhannya mulai berkurang dari usia 5 bulan hingga 4 tahun.
3. Kemampuan gerakan tangan dan geraka motor halus menjadi hilang antara usia 5 bulan hingga usia 2,5 tahun.
4. Kehilangan sebagian atau seluruh perkembangan bahasanya.
5. Gerakan seperti mencuci tangan yang stereotip dengan fleksi tangan di depan.
6. Hambatan dalam mengunyah makanan.
7. Sering terjadi episode hiperventilasi.
8. Gagal dalam pengaturan buang air kecil dan besar.
9. Lidah sering menjulur keluar dan air liur menetes.
10. Ikatan social menghilang.
11. Tatapan anak kosong.
12. Cara berdiri dan berjalan anak cenderung melebar, otot hipotonik, koordinasi gerak tubuh memburuk (ataksia).
13. Terjadi serangan epileptic yang mendadak dan biasanya dalam bentuk kecil – kecil.
14. Tidak merusak diri.



Daftar Pustaka :
Videbeck, Sheila.L. 2001. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Alih bahasa: Renata Komalasari. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Semiun, Yustinus. 2006. Kesehatan Mental 2. Yogyakarta: Kanisius.

Senin, 24 Mei 2010

Faktor dan Pencegahan Anak Mengompol (Enuresis)

Anak yang mengompol sudah menjadi kebiasaan. Namun anak yang mengompol perlu dibawa ke dokter bila :
- Anak masih mengompol pada usia > 6 tahun
- Air kencing anak berbau tidak biasa dan mengeluhkan rasa sakit atau nyeri ketika selesai mengompol
- Anak lebih sering kencing dari biasanya
- Ngompol disertai buang air besar di celana
- Anak masih sering mengompol pada siang hari
Faktor anak mengompol
- Dapat terjadi karena anak sakit dan minum obat atau bahan tertentu yang dapat mengganggu gangguan kandungan kemihnya.
- Anak tidak terbangun karena malas ketika sudah merasakan sinyal untuk buang air kecil
- Anak belum dapat menganggap bahwa kebersihan merupakan kebutuhan untuk dirinya.

Pencegahan Anak Mengompol
Orang tua sebaiknya mengajarkan kepada anak agar menyukai kebersihan dan selalu mengingatkan anak untuk ke kamar mandi. Secara wajar anak akan berhanti mengompol pada usia 1 tahun. Setelah itu ajarkan pada anak agar bias membersihkan diri setelah buang air kecil. Latihan ke kamar mandi sebaiknya dilakukan sebelum anak bisa berjalan. Diharapkan dari latihan anak dapat mengontrol kandungan kemihnya agar tidak mengompol.

Daftar Pustaka :
Yatim Faisal. 2005. 30 Gangguan Kesehatan Pada Anak Usia Sekolah. Jakarta:
Pustaka Populer Obor

Nocturnal Enuresis (Mengompol Pada Anak)


Ngompol merupakan masalah pada anak yang sering ditemukan. Tidak jarang ditemukan pada anak yang sudah remaja. Biasanya hal ini terjadi pada laki – laki. Hal ini karena tahapan dalam perkembangan fase anal kurang berjalan dengan baik. Dimana toilet training kurang diterapkan oleh orang tua.

Anak umumnya sudah dilatih buang air kecil pada umur 3 – 4 tahun. Sehingga pada umur 5 tahun anak sudah dapat pergi ke toilet sendiri tanpa selalu dibantu orang tua. Namun sekitar 30% anak umur 4 tahun dan 10% anak usia 6 tahun takut untuk ke kamar mandi sendiri terutama pada waktu malam hari.

Cara orang tua menghadapi anak yang mengompol :

- Jangan memarahi dan menghukum anak yang mengompol

- Anjurkan pada anak agar tidak banyak minum 2 jam sebelum tidur

- Ingatkan anak agar buang air kecil sebelum tidur

- Berikan motivasi pada anak agar tidak malu dengan perasaannya

- Anjurkan anak agar mengganti pakaiannya sendiri dan alas tidurnya sendiri ketika mereka mengompol

- Jelaskan pada anak bahwa cara ini bukan membiarkan mereka untuk mengompol tapi untu dapat mengurangi kebiasaan mereka mengompol.

Daftar Pustaka :

Yatim Faisal. 2005. 30 Gangguan Kesehatan Pada Anak Usia Sekolah. Jakarta:

Pustaka Populer Obor

Sabtu, 15 Mei 2010

LANGIT DAN CERITA BINTANG

Bintang tidak dapat berkata kepada siapapun

Tetap bintang dapat bercerita kepada langit

Langit tak dapat berkomentar

Langit hanya bisa mendengarkan dan mengeluarkan senyum indahnya

Mendengarkan cerita bintang

Tentang betapa bahagianya

Ketika bintang berbagi kebahagiaan

Dengan selalu bersinar dan bercahaya selamanya

Di hati siapapun